Hujan deras menimpa kota yang telah lama mati. Bangunan-bangunan runtuh dibalut lumut, jalanan retak penuh mayat yang membusuk dan hening… hingga lengkingan mengerikan memecah sunyi dari kejauhan.

Di bawah reruntuhan gedung supermarket tua yang hampir roboh, Lynx bernafas terengah. Darah bekas gigitan mengucur dari paha dan beberapa bagian tubuhnya akibat  serangan zombie yang sengaja diarahkan untuk menyerangnya. Ia menyeret tubuhnya, satu tangan menggenggam senapan, tangan lain memegangi luka yang sudah mulai membiru.

Sekelompok orang berdiri tak jauh darinya, siluet mereka samar diterangi api unggun kecil yang menyala redup. Tapi satu wajah ia kenal lebih dari yang lain, wajah yang pernah dia cintai, selalu ia lindungi tanpa pertanyaan, yang kini memeluk lelaki lain tepat di hadapannya

Sherly.

Rambut panjangnya kini terikat kasar, wajah yang sama, tapi matanya tak lagi menatapnya dengan hangat. Tidak ada sisa ragu di sana. Tidak ada rasa kasihan. Hanya… dingin dan mengejek.

“Dia sudah terluka,” gumam lelaki besar di sebelah Sherly, si pemimpin kelompok yang dulunya hampir dibunuh Lynx saat perebutan logistik. “Kita ambil semua logistik dan senjata dari tasnya. Dia takkan selamat.”

“Tunggu...” Suara Lynx serak, tubuhnya gemetar bukan hanya karena rasa sakit, tapi karena hatinya remuk.

Sherly menoleh. Ia berjalan pelan, lututnya menyentuh tanah di hadapan Lynx. “Kau terlalu bodoh, Lynx. Selalu mengorbankan dirimu demiku… dan untuk apa? Kamu terlalu munafik jika berharap aku akan selalu bersamamu? Jika bukan karena makanan yang kamu miliki, aku tidak akan mau berada di dekatmu.”

Sherly menyentuh pipi Lynx, lalu mengelus luka yang menganga di bahunya. “Kau sungguh bodoh, selalu berusaha menyelamatkanku, tanpa mengetahui jika aku selalu menertawakan perbuatanmu yang sia-sia.”

Lynx menatapnya dengan mata yang memerah. “Sherly… aku... masih menyayangimu.”

Sherly tersenyum, lalu berbisik tanpa malu, “Sayangnya, aku tidak pernah sedikitpun memiliki perasaan kepadamu. Kamu terlalu bodoh berusaha menolong orang tapi berakhir di celakai oleh mereka dan sekarang giliranku mencelakaimu.”

Tanpa ragu, Sherly bangkit dan berbalik ke lelaki di sebelahnya. Mereka saling menatap, lalu berciuman di depan Lynx, panjang dan penuh gairah, seperti tak ada luka yang berdarah beberapa meter dari mereka. Bahkan pria tersebut sengaja memperlihatkan tangannya menyusup kedalam pakaian Sherly dan meremas gunung kembarnya.

"Ahhh.... Sayang....." Sherly mendesah sambil mencium lebih mesra pria tersebut.

"Lynx, kamu hampir berhasil membunuhku. Tapi lihat! Tidak percuma aku menyuruh Sherly mendekatimu selama ini. Hahaha." Tawa pria tersebut dengan penuh bangga.

"Kamu menjaganya dengan baik, tapi aku yang selama ini selalu menikmati tubuhnya saat kamu keluar mencari makanan." Pria itu menurunkan celana Sherly dan menunjukkannya celana dalam berwarna pink di depan Lynx."Anggaplah ini hadiah dariku. Lihatlah milik wanita yang kamu sayang. Bagaimana aku selalu menikmatinya sementara kamu bermimpi pun tidak akan bisa membayangkan tubuh ini." Pria itu memasukkan tangannya kedalam celana dalam Sherly dan meremasnya.

"Kamu harus memuaskanku malam ini sayang...." Desah Sherly manja.

Bagi Lynx, perbuatan mereka lebih menyakitkan dari gigitan zombie.

“Ambil semua yang dia punya,” ucap Sherly sesudahnya, wajahnya dingin seperti es. “Dan pastikan dia tidak bangun lagi.”

Dua pria mendekat, salah satunya mengangkat palu baja. Lynx mencoba meraih senapan, namun pelatuknya kosong. Ia telah menembakkan peluru terakhirnya lima menit lalu. Ia hanya bisa menatap langit malam yang kelam, membayangkan semua pengorbanannya, semua darah yang ia tumpahkan untuk menjaga mereka.

Dan Sherly. Yang ia cintai.

**Duarghh!**

Palu baja menghantam kepala Lynx. Dunia bergetar, lalu memudar.

Tapi saat cahaya terakhir memudar, bukan kegelapan yang menyambutnya.

*

Lynx tersentak bangun.

Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya berkeringat dingin. Ia duduk di tempat tidur usang—di dalam kamar kecil yang masih utuh. Jam di dinding berdetak pelan. Tidak ada zombie. Tidak ada reruntuhan.

Ia meraih ponsel di samping ranjang. Masih menyala. Tanggal... **6 Juni**.

Matanya membelalak. Ini—ini tak mungkin...

Hari kiamat terjadi **13 Juni**. Satu minggu dari sekarang.

“Aku kembali…” bisiknya.

Ia bangkit perlahan, menatap tangannya yang masih utuh. Tak ada luka. Tak ada bekas gigitan. Tapi semua kenangan—semua rasa sakit dan pengkhianatan—masih segar di pikirannya, seolah baru terjadi kemarin. Karena memang baru terjadi—di kehidupan yang lain.

Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ia hendak meraih air minum dari meja. Tapi saat tangannya bergerak… gelas itu tiba-tiba **menghilang**.

Lynx terdiam. Matanya menyipit.

Apa itu barusan?

Ia mencoba hal yang sama dengan bantal di tempat tidur. Ia memfokuskan pikirannya… dan *wussh*, bantal itu lenyap di udara, seperti tersedot ke ruang kosong.

Dalam benaknya, ia bisa merasakan keberadaan tempat gelap—hampa, luas tak terhingga—dan benda-benda itu kini berada di sana.

“Ruang… penyimpanan?” gumamnya pelan.

Matanya mulai berkilat, bukan karena takjub… tapi karena sebuah rencana mulai terpatri dalam pikirannya. Dengan kekuatan ini, dia bisa menyimpan makanan, senjata, bahkan orang… dan yang lebih penting: menyembunyikan rahasia.

Lynx menatap langit biru pagi dari balik jendela kecil. Dunia masih damai. Belum ada jeritan. Belum ada kiamat.

Tapi ia tahu, waktu terus berdetak.

**“Tujuh hari. Tujuh hari sebelum dunia jatuh. Tapi kali ini… aku yang akan berburu. Aku yang akan membakar jalan mereka.”**

**“Dan Sherly—kau takkan pernah menyentuh hartaku lagi.”**
